Prolog

Delapan tahun yang lalu.

Matahari begitu menyengat siang ini. Mengingat hari ini adalah ulang tahun adik angkatanku, semuanya terasa lebih sejuk. Tapi tidak semua bagian diriku yang merasakan hal itu. Kepalaku masih berdenyut.”Apa yang akan aku berikan padanya ?”gumamku.

Aku berjalan menyusuri kota. Kota kecil Bernama Lua. Kota miskin yang dipimpin oleh wali kota yang tirani. Tidak sedikit dalam lima atau enam meter, aku menemukan pengemis yang meminta-minta. Janji wali kota untuk menghilangkan kemiskinan, sepertinya belum terwujud. Mau bagaimana lagi, penduduk disini selain miskin harta, juga miskin ilmu. Sedikit sekali laki-laki yang mendapat gelar sarjana. Mereka lebih memilih menjadi pengusaha muda yang mementingkan diri sendiri daripada kotanya. Salah satunya adalah aku.

Menemukan hadiah yang bagus untuk kenangan merupakan hal tersulit kedua setelah menentukan objek dagang. Adik angkatanku itu seorang gadis. gadis yang baik. Pipinya tembem dengan diselimuti hijab, pendek dan sedikit gemuk, mungkin sedikit lebih tinggi dari pohon cabe. Aku senang melihat wajahnya, apalagi jika ia memakai kaca mata. Aku menyimpan beberapa fotonya di dalam dompetku. Sudah setahun lebih dua bulan aku belum bertemu dengannya. Semoga saja dia tidak lupa denganku. Dia sendiri tinggal di kota Leb. Membutuhkan dua sampai tiga jam perjalanan untuk sampai disana. Dia satu tingkat lebih rendah dariku. Namanya Yasmin, Ya, Melati artinya.

Akhirnya aku singgah ke sebuah cafe kecil. Secangkir teh mungkin bisa melepas penatnya hari ini. Duduk sambil memandang cerahnya langit hari itu. angin tidak berhembus sama sekali. Hmm…. Gumamku dalam dalam hati. Aku memikirkan sesuatu untuk dijadikan hadiah. Tepat sekali, aku menemukan hadiah yang cocok. Aku segera membayar teh yang telah aku minum. aku segera berangkat menuju toko buku. Aku tidak membeli buku dengan tema tertentu disana, melainkan Sebuah Buku tulis kosong yang tebal. Yang Aku ingat tentangnya adalah wajahnya. Aku mau memaksanya untuk menulis disini. Aku harap dia mau.

*o*o*o*

Aku sudah siap dengan baju santaiku. Menyalakan Mobil, dan segera berangkat dengan buku tulis yang sudah kusiapkan untuknya. Di satu provinsi, kota kami berada. Daerah yang masih diselimuti oleh hutan. Udaranya masih segar tentunya. Kami tidak pernah tahu apa yang ada di dalam hutan-hutan itu. Penuh legenda, dan cerita. Ya. Perjalanan ke kota Leb penuh dengan pemandangan. salah satunya, yang senang sekali aku jumpai adalah bendungan dengan air terjun. Terletak Diantara kota Lua dan Leb. Menikmati pemandangan dalam perjalanan, membuatku lupa, aku sudah sampai. Melewati beberapa rumah, aku sudah sampai di rumahnya.

Kami bukan adik kandung, Tapi hanya saudara angkat. Aku menyayanginya seperti saudara kandungku sendiri.

“Assalamu’alaikum !” aku mengetuk pintu rumahnya. Aku harap dia tidak pindah rumah.

“Wa’alaikumussalam.” aku mendengar jawaban dari dalam, dan adku kenal suara itu. Ya itu dia.

“Yasmin.” aku seperti tidak mengenalnya. Dia terlihat lebih dewasa.

“Kakak ?” begitu juga dia. Dia melihatku seperti melihat orang yang telah pergi bertahun-tahun dan baru saja kembali.

“Waw, kamu kelihatan beda.” aku mundur sedikit, membiarkan dia keluar.

“Biasa aja kak, dari dulu juga kayak gini kok.” di keluar dan mempersilakan aku duduk.

“nggak, dulu nggak kayak gini.” aku masih melanjutkan basa-basi.

“Apanya yang beda ?” tanyanya.

“Lebih cantik dari yang dulu” pujiku padanya.

Dia menundukkan pandangannya. Aku mencoba menatap wajahnya. Wajahnya memerah. Sudah lama sekali aku tidak melihat ekspresi itu.

Selanjutnya aku berikan apa yang harus ku berikan. Awalnya ia terlihat bingung. Tapi aku hanya bilang.”Nanti kamu memerlukannya.” Setelah segala urusan selesai aku lanjutkan untuk kembali ke rumah.

*o*o*o*

Mungkin dia tidak akan pernah tahu apa yang aku sembunyikan. Aku pun tidak mengerti bagaimana untuk mengatakannya. Aku mencintainya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *